Home > My Life > Susahnya Mengasuh Anak

Susahnya Mengasuh Anak

“Huh, gimana sih dedek, disuruh maem sayur ga mau, pengennya jajan melulu. Disuruh belajar males, maunya nonton tivi, maen PS, sepeda-an. Bingung, musti gimana yah?”

Bagi Anda para orang tua, pasti pernah mengalami masalah yg sama dengan anaknya. Mulai dari susah makan, susah belajar, susah tidur, dsb.

Saya sendiri, mulai menyadari: tidak mudah ternyata mengasuh anak! Apalagi di jaman sekarang ini.

Faktanya: anak semakin mudah terpengaruh tontonan di tivi, atau pengaruh teman2 di sekolah dan lingkungannya. Di sisi lain, orang tua semakin susah mengontrol anak, apalagi kalo ‘pelajaran’ yang kita ingat adalah dari orang tua kita dulu.

Masih terekam di ingatan, walau hanya berupa ‘cuilan’ memori. Masa2 kecil saya dilalui dengan pendidikan yang ‘keras’ dari orang tua. Terutama karena saya sebagai anak, berbuat kesalahan atau sesuatu yang tidak berkenan bagi beliau. TAPI, tetap walau bagaimanapun saya menaruh hormat kpd kedua orang tua, karena jasa2 beliau-lah saya bisa seperti sekarang ini.

Nah, pertanyaannya: apakah sistem pendidikan yang sama musti diterapkan pada anak kita sekarang? Seberapa efektif-kah bentakan ataupun tindakan fisik spt mencubit, menjewer atau menempeleng anak bisa membuat anak lebih baik?

Saya sendiri belum bisa menjawabnya. Saat inipun saya dan istri masih belum dikaruniai anak. Namun, saya khawatir, suatu saat ketika si buah hati hadir, saya musti menghadapi permasalahan yang sama.

Yang jelas, saya ingin suatu saat nanti, anak saya bisa tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, tidak gampang menyerah, namun tetap hormat pada orang tua. Dan satu hal, saya tidak ingin anak saya merasa terasing, merasa jauh dari orang tuanya dan tidak mampu berbagi beban permasalahan dan malah lari ke hal2 negatif seperti narkoba misalnya.

Suatu permintaan yang luar biasa, bukan?

*Bagi yang berkenan, silahkan berkomentar di tulisan ini. Trims

  1. alijusmono
    April 23, 2010 at 4:28 pm

    Mendidik Anak dengan Ikhlas
    Jaman sekarang bukan hanya susah punya anak tetapi juga susah mengasuh, membesarkan dan mendidik anak dengan ikhlas, mengapa? Banyak faktor penyebabnya, tetapi saya bukan ahli pendidikan anak, saya hanya ingin sharing pengalaman kami (saya dan istri) mungkin bermanfaat untuk sesama, setidak-tidaknya buat perbandingan bagi pembaca. Jadi pengalaman kami tidak mesti benar dan perlu ditiru, sebab setiap manusia itu adalah pribadi yang unik tidak ada persamaannya antara satu orang dengan orang lain, mohon hal ini di pahami.
    Kami punya tiga anak, anak pertama dan ketiga laki-laki, anak kedua perempuan. Meski satu ayah satu ibu, ketiganya memiliki karakter yang sangat berbeda. Kami suami-isteri adalah karyawan di jkt tetapi rumah di tangerang (berangkat jam 6 pagi balik ke rumah jam 6 malam kadang-kadang jam 7), kami memiliki pembantu seorang janda paruh baya punya anak perempuan satu sekolah SD. Saya sekolahkan anak pembantu saya di dekat rumah (komplek) mulai smp sampai lulus sma dan saya carikan pekerjaan sampai ketemu jodohnya dan nikah. Pembantu saya bekerja di rumah saya layaknya menggantikan peran orangtua selama 12 tahun terus menerus, sejak anak saya yang pertama berumur 1 tahun sampai saya punya anak ketiga berumur 9 tahun. Anak-anak kami titipkan kepada pembantu selama kami bekerja dan pembantu kami perlakukan sebagai keluarga kami, tidak ada perbedaan makanan, apapun makanan yang kami beli/masak pembantu kami juga menikmati, tidak satupun lemari makan yang kami kunci. Dalam pendidikan pun anak pembantu kami sekolahkan sampai lulus sma dan setiap penerimaan raport saya atau isteri saya yang datang mengambil raportnya sehingga kami secara lahir bathin mendidik anak pembantu saya seperti layaknya anak kami sendiri. Inilah yang kami katakan mendidik anak dengan ikhlas (walaupun anak pembantu). Reward (balasan) yang kami terima pun pembantu saya dan anaknya dengan ikhlas mengasuh anak-anak saya seperti yang kami pesankan kepada mereka untuk tidak memarahi dengan kata-kata kasar atau memukul, mencubit, dll. tindakan kekerasan terhadap anak-anak kami. Kalau mereka nakal, pembantu dengan terbuka mengatakan kepada kami dan kamilah yang menasehati, memberikan peringatan kepada anak-kami. Dengan demikian anak-anak kami sangat dekat dan sayang kepada mereka. Anak-anak kami berikan asuhan secara fair dalam arti mereka kalau salah ya akan diberi nasehat, teguran, sebaliknya kalau pembantu saya yang berlaku kasar atau salah juga mereka kami tegur, sehingga anak-anak kami merasakan sejak kecil diperlakukan secara fair. Yang jelas kami dan juga pembantu kami tidak pernah sekalipun memukul atau turun tangan terhadap anak-anak, jika kami merasa perlu memberikan pelajaran atau nasehat terhadap anak yang melakukan kenakalan atau kesalahan yang paling keras kami lakukan adalah mencubit. Kami berprinsip: Jangan pernah mengadili anak dengan hukuman pukulan agar anak-anak kalau sudah besar tidak menjadi tukang pukul orang jika melihat orang lain melakukan kesalahan terhadapnya. Setelah kami pulang kantor sejak saat itulah pembantu kami istirahatkan total. Setiap urusan anak dari minta susu sampai membersihkan “bab” anak menjadi urusan kami berdua. Dengan begitu anak-anak kami merasa sangat kami perhatikan dan sayangi. Kami berdua menungguin kalau mereka belajar. Alhamdulillah anak-anak kami tumbuh dewasa dan banyak teman, anak kami nomor satu dan dua sudah sarjana (keduanya alumnus UI Depok) dan keduanya menjadi CPNS kementerian yang berbeda secara fair, anak ketiga masih kuliah di Un-Bra, Malang. Pembantu saya sudah pensiun dan memiliki rumah, sawah dan sapi hasil jerih payahnya membantu saya selama 12 tahun, anaknya sudah punya kios/toko hp dan wartel di daerah/kota kecil di Jatim. Nah, semoga bermanfaat buat saudara-saudaraku pembaca budiman. Salam, alijusmono

  2. September 25, 2010 at 8:11 am

    Mengasuh anak memang berat dan susah, betul sekali, yang terpenting adalah harus Ikhlas agar semua jadi menyenangkan🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: