Home > My Life > Efisiensi Tiada Arti

Efisiensi Tiada Arti

Di masa ekonomi sulit sekarang ini, kata efisiensi menjadi kunci bagi perusahaan untuk bisa survive.

Namun apa jadinya kalau efisiensi disalahartikan oleh pihak managemen sebagai pengesahan atas tindakan untuk ‘menekan’ pegawainya?

Ketika pada satu kesempatan, saya diminta untuk kerja lembur.. saya mendapatkan satu kenyataan pahit. Driver/pengemudi yang menjemput karyawan untuk kerja malam, kebetulan dari perusahaan outsource.

Yang saya alami pada saat itu adalah perasaan tidak nyaman, karena sepanjang perjalanan saya musti mendengar keluh kesah si driver. Tapi memang apa yang diceritakan, sungguh memprihatinkan. Bayangkan, si driver ini sudah bekerja selama 60 jam non-stop. Itu pun lembur tidak dibayarkan, dan karena selesainya pagi, maka pagi itu juga dia tetap masuk kerja.

Tentunya ada yang berpendapat, sudah sewajarnya — toh, ketika sampai di tujuan selama menunggu karyawan selesai kerja dan mengantar pulang, si driver bisa beristirahat di mobil.

Jika ada yang berpendapat demikian, saya akan balik tanya: bagaimana menurut Anda istirahat di mobil dengan di rumah? Kalo diminta mungkin belum tentu mau. Karena meskipun bisa ‘merem’ tapi posisi badan tidak bisa rileks dan walhasil, bangun tidur malah bikin badan tambah remuk rasanya.

“Kenapa tidak menolak, Pak?” tanya saya.

“Kalau saya menolak, dianggap tidak loyal, dianggap membangkang. Kalau saya bolos, malah potong gaji” kata si driver.

Saya tidak tahu peraturan pemerintah yang mana; seingat saya tidak boleh semestinya orang bekerja lebih dari 24 jam berturut2.

Saya pun juga merasa ‘tidak aman’, karena khawatir jika si driver terlalu lelah dan malah ngantuknya mengakibatkan kecelakaan.

Apakah ini yang diinginkan dari sebuah ‘efisiensi’. Si driver tadi terus bertanya, “Bukankah perusahaan ini kelas internasional, kok bisa2nya bikin peraturan semacam ini?”

Saya menjawab dalam batin, mungkin ‘nama’ perusahaannya betul internasional, tapi orang2nya masih orang2 yang sama, paling tidak pemikirannya dengan dulu ketika Indonesia masih dijajah Belanda. Warisan jaman kolonial, yang memungkinkan wong Londho mendapat untung sebesar2nya di atas penderitaan warga pribumi. Sementara demi menjamin kelancaran bisnis, si penjajah ini mengangkat satu warga pribumi sebagai mandor yang bertugas untuk ‘memecuti’ sekaligus meraup keuntungan sebesar2nya buat sang majikan.

Sungguh mengenaskan!

Indonesia mungkin sudah merdeka, ya secara harafiah. Tapi kenyataannya masih banyak rakyat yang menderita. Meskipun tujuannya untuk efisiensi, namun tidak ada artinya jika makin banyak orang yang menderita.

Harus kemana, saya mengadu. Mungkin cuman di blog ini saya bisa berkata..

Categories: My Life Tags: ,
  1. March 15, 2010 at 11:27 pm

    wah, cukup dalam isinya bro…
    setuju ane dengan ente…kemana kita mau mengadu?

  2. eindgun
    April 10, 2010 at 5:09 pm

    udah yuk pada pindah aja wkwkwkww masih banyak lowongan neh disini hihiihih

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: