Home > My Life > Sebuah Ironi di Bumi Batubara

Sebuah Ironi di Bumi Batubara

Sudah dua minggu, saya tinggal di Banjarmasin. Selama itu saya menjumpai hal2 yg pada awalnya membuat kaget, sampai lama kelamaan menjadi terbiasa.

Siapa yang tidak kenal istilah, “Habis Gelap Terbitlah Terang”.. istilah yang mungkin ada kaitannya dengan karya Ibu Kartini. Sebuah harapan agar setelah bangsa Indonesia mengalami masa kegelapan, pada akhirnya kembali ke jalan yang terang. Jalan yang terang itu sendiri artinya apa, yah? Apakah bebas dari penjajahan, merdeka? Apakah bebas dari penderitaan dan menjadi bangsa yang makmur? Atau benar2 bermakna literal, yaitu dulunya tidak ada atau sedikit penduduk bangsa ini yang menikmati listrik dengan lampu dan peralatan elektronik .. dan harapannya sekarang sudah banyak yg bisa menikmatinya?

Nah, saya lebih suka ‘menyentil’ pemahaman yang terakhir: listrik. Saat ini memang bisa dibilang krisis terjadi secara global, sampai2 Indonesia mengalami yg namanya krisis listrik. Rakyat diminta berhemat semaksial mungkin. Namun kalau sudah tinggal 1-2 lampu yang masih menyala di malam hari, apalagi yg musti dihemat (dimatikan). Maka terjadilah yg namanya pemadaman listrik bergilir.

Tadinya saya tidak menyangka bakal sekaget ini. Nyatanya di Banjarmasin ini, hampir setiap hari saya merasakan namanya pemadaman listrik meskipun hanya sesaat. Beruntung karena selama ini saya tinggal di daerah yg termasuk pusat kota. Lha terus, yang di daerah bagaimana? Menurut cerita teman yg sudah lama tinggal di Banjarmasin .. ada suatu daerah tempat dia tinggal mengalami pemadaman dengan rasio 3:1. Maksudnya: 3 hari padam, 1 hari nyala. Luarrr biasa!

Padahal, Indonesia kan salah satu negara penghasil batubara dan minyak terbesar. Apalagi Kalimantan, wah bisa dibilang gudangnya tuh. Jadi kalo dibilang di koran, bahwa PLN mengalami krisis listrik karena kurangnya pasokan batubara .. sungguh sebuah ironi! Istilahnya “mati di dalam lumbung padi” .. pasokan melimpah namun hanya segelintir orang Indonesia yg menikmatinya. Lalu kemanakah larinya batubara dan kekayaan alam lainnya?

*Dooh, barusan aku terkaget lagi gara2 listrik mati dan switch ke genset. Mudah2an perangkat2 yang ada di tempat aku kerja ini ga ada yang rusak, yah.

  1. wyd
    November 19, 2008 at 12:49 am

    nah ini baru bener soal indonesia. kan apa yang ga mungkin terjadi di negara lain, boleh jadi mungkin terjadi di negara ini. ironis? kayaknya biasa banget deh

  2. didiet
    November 25, 2008 at 10:53 pm

    Pan, lebih kaget mana ama kalo pas di Rungkut, lampu pasti mati kalo ada geledek lagi nyamber ???
    Hehehe …..

  3. November 26, 2008 at 10:04 am

    @wyd:
    Jangan salah! Di kolom Surat Pembaca koran lokal pun setiap hari ada 1-2 orang yg komplain masalah listrik. Jadi sbnernya masyarakat setempat pun juga ‘risih’, tapi keadaannya ya .. teteup ajah.

    @didiet:
    Iyo, diet. Gara2 itu TV sama tape-compo ku rusak, makanya kalo hujan campur gledek gitu langsung tak cabut dari steker-nya.

  4. December 1, 2008 at 6:36 pm

    indonesa, endonesa… oh indonesia

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: