Home > Motivation > Veronika Memutuskan Mati

Veronika Memutuskan Mati

“Ada banyak cara untuk mati bunuh diri: melompat dari gedung tinggi, menembak diri sendiri, gantung diri, menyayat pergelangan tangan dan lain sebagainya. Namun Veronika memilih untuk menenggak empat butir obat tidur, yang menurutnya merupakan cara mati yg feminin.”

Buku karangan Paulo Coelho ini bercerita tentang seorang gadis berumur 24 tahun – Veronika, yang mencoba untuk mengakhiri hidupnya.

Bukan karena sedih ditinggal pacar atau orang yg dicintai. Bukan pula karena putus asa. Keinginan bunuh dirinya lebih karena, dia merasa apa yg telah dijumpainya selama ini sudah cukup baginya dan ia tidak ingin menyaksikan hal yang sama untuk waktu 30, 40 atau 50 tahun lagi. Sebab semua akan kehilangan keasliannya dan berubah menjadi tragedi kehidupan, dimana segala sesuatu berulang dan ada hari yang sama persis.

Namun upaya bunuh dirinya gagal; bukannya ia meninggal – seseorang (yang tidak diketahui) telah menyelematkannya dan membawanya ke rumah sakit jiwa Villete.

Dan di Villete inilah ia mendapatkan pengalaman yang berbeda. Yang tadinya ia ingin mati, malah sekarang merasa ketakutan. Setelah diagnosa dokter yang menyatakan bahwa upaya bunuh-dirinya tsb menimbulkan gangguan kronis pada jantungnya. Dan hidupnya diperkirakan tinggal 5 – 6 hari lagi.

Banyak hal yang menarik yang bisa didapatkan dalam buku ini. Tentang kisah latar belakang orang2 yang diceritakan masuk ke Villete. Ada Zedka, seorang ibu rumah tangga yang memiliki kehidupan sempurna dengan seorang suami dan anak2 tercinta. Mari, yang selama 40 thn lebih menjalani profesi sebagai pengacara dan merasa muak dengan sandiwara kotor dunia hukum. Eduard, seorang pemuda tampan putra diplomat yang divonis mengidap skizofrenia, hanya karena ingin mendalami seni lukis dan berusaha mewujudkan visi firdaus-nya. Dan tak lupa, Dr. Igor yang memainkan peran penting dalam cerita ini, dimana ia merasa beruntung, mendapatkan Veronika sebagai ’kelinci percobaan’ untuk tesis psikiatri-nya.

Beberapa point yang menarik bagi saya adalah:
1) Orang tidak harus merasa sedih atau putus asa untuk melakukan bunuh diri
2) Apakah sesuatu yg dianggap normal melulu karena diikuti oleh mayoritas?
3) Mana yang lebih penting: kesadaran akan kematian atau kesadaran atas hidup?
4) Jika kita diposisikan sebagai seorang anak dari orang tua kita. Apakah kita harus mengorbankan cita2 kita demi cinta kepada orang tua? Ataukah menjalani hidup sesuai impian kita, dengan konsekuensi kesedihan dan bahkan kebencian orang tua terhadap kita?

Sebagai penutup, saya ingin mengutip penggalan cerita dari buku ini. Sebuah kisah yang disampaikan Zedka, atas pertanyaan Veronika tentang definisi gila.

“Seorang tukang sihir yang sangat ampuh, yang ingin menghancurkan seluruh kerajaan, memasukkan ramuan ajaib ke dalam sumur tempat semua orang minum. Siapa pun yang meminum air itu akan menjadi gila.

Keesokan harinya, semua orang minum dari sumur itu dan menjadi gila, kecuali raja beserta keluarganya yang minum dari sumur lain. Raja sangat cemas dan berusaha mengendalikan masyarakat dengan mengeluarkan aturan yang menyangkut keamanan dan kesehatan umum. Namun polisi dan kepala polisi sudah meminum air dari sumur beracun itu, sehingga mereka berpikir aturan yang dibuat oleh raja itu aneh dan mereka pun mengabaikannya.

Ketika mendengar tentang aturan tersebut, rakyat kerajaan itu merasa yakin raja sudah gila, sehingga memberi perintah yang tak masuk akal. Mereka mendatangi istana dan meminta raja turun tahta.

Merasa putus asa, raja pun siap turun tahta, namun ratu mencegahnya dan berkata: ’Ayo kita minum dari sumur umum. Dengan demikian kita akan berlaku sama seperti mereka.’

Mereka pun melakukannya: Raja dan ratu minum air gila dan seketika mereka pun melantur. Rakyat berubah pikiran: sekarang raja menjadi bijak, mengapa ia tidak dibiarkan saja memimpin?

Negeri itu pun hidup dengan damai, meskipun rakyatnya berperilaku berbeda dengan rakyat negeri tetangga. Dan raja memimpin sampai akhir hayatnya”

Categories: Motivation Tags: , , ,
  1. October 8, 2008 at 12:07 pm

    wah.. memang gile ya..
    orang gila memang kumpulnya ama orang gila..jadi ga disebut gila…

    cihui..

    Punya waktu luang ??
    http://komikz.blogsite.org

  2. wyd
    October 8, 2008 at 11:00 pm

    btw… judul bukunya apaan neehh… udah dibaca secara detil kok ga nemu juga? apa saya yang ga ngeh yah?

  3. October 9, 2008 at 9:37 am

    @wyd:
    Judul bukunya ya.. “Veronika Memutuskan Mati”🙂 by Paulo Coelho. Masih banyak kok di toko buku spt Gra****a

  4. October 10, 2008 at 2:59 pm

    Halo Mas Taufan,

    Keren juga ceritanya mas, saya juga sempat punya beberapa buku paulo coelho. Salah satunya bercerita tentang seorang pengembala, cuma lupa judul bukunya soalnya agak lama bacanya. Karya2 paulo coelho memang asyik dan syarat dengan makna.

  5. October 20, 2008 at 9:39 am

    @Askari Azikin:
    Betuull.. buku yg kmu maksud itu, The Alchemist adalah buku yang bagus banget. Dan sejak itu aku mulai ngelirik buku2 Paulo Coelho

  6. November 13, 2008 at 10:25 am

    paulo coelho emang kereeen….
    udah baca “Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis?”
    salam kenal..

    sedty

  7. September 1, 2011 at 6:04 pm

    wah buku bagus nih, makasih ya infonya

  1. October 9, 2008 at 10:20 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: