Home > My Life > Menangkap Peluang Bisnis di Pegadaian

Menangkap Peluang Bisnis di Pegadaian

Pegadaian, siapa yang tidak kenal tempat satu ini.. terutama kalo kita lagi BU (butuh uang🙂 ) Selama ini mungkin, kita hanya tahu bahwa kita bisa menggadaikan barang di pegadaian, demi mendapat pinjaman duit. Apakah pernah terpikir bahwa dibalik sibuknya aktivitas gadai-menggadai barang, ada sebuah peluang untuk berbisnis? Saya ingin berbagi cerita, dari salah seorang kenalan yang berusaha ’menangkap’ peluang bisnis tersebut.

Sebelumnya, sedikit uraian tentang sistem kerja pegadaian. Yang perlu diperhatikan bahwa, antara pegadaian satu dengan lainnya ternyata memiliki sistem yang (sedikit) berbeda.

Pada saat kita menggadaikan barang, ada petugas yang akan melakukan taksiran atas barang tersebut. Namanya juga taksiran.. bisa dibilang tidak ada standar baku mengenai harga yg diberikan. Seperti yg diceritakan kenalan saya, biasanya apa yang ’kelihatan mata’ itulah yang menjadi patokan. Misalnya: kalo barang elektronik, maka merk berpengaruh besar. Terutama merk2 terkenal seperti Sony, Phillip, LG, Toshiba dll. Sementara merk2 yang lain, terutama produk2 dari Cina bisa dihargai murah (banget) malah bisa2 ditolak oleh pegadaiannya. Untuk meningkatkan harga barang, kardus juga berpengaruh loh – jadi jangan lupa dibawa yah🙂

Dari harga yang diberikan, kadang tidak semuanya bisa diuangkan. Tergantung dari kondisi keuangan pegadaian yg bersangkutan. Misal: gadai TV, ditaksir harga 2 juta.. bisa jadi uang (hutangan) yg diberikan cuman 1 juta. Penyebabnya (mungkin) kondisi keuangan kurang, mungkin banyak barang yg masuk sehingga pihak pegadaian musti membatasi uang yang ’dikeluarkannya’. Uang yang dipinjamkan tadi, akan dikenai bunga bulanan. Selama periode waktu tertentu – kurang lebih 3 bulan, pinjaman tadi musti dikembalikan. Atau kalau tidak, kita bisa membayar bunganya (3 bulan) tadi, sekaligus memperpanjang masa hutang. Jika sampai saat terakhir tetap tidak dibayarkan, maka barang yg kita gadaikan akan dilelang.

Nah, pelelangan inilah, momen dimana orang2 tertentu berusaha untuk menangkap peluang bisnis di dalamnya. Jangan bayangkan, seperti lelang di film2, dimana pembeli melakukan penawaran harga barang. Lelang di sini, lebih bersifat satu arah .. kepala pegadaian memberikan pengumuman barang apa yg akan dilelang dengan harga yang sudah ditentukan.

Resikonya, bisa jadi rebutan dong.. terutama kalau ada barang ’bagus’ yang dilelang dengan harga murah. Untuk itu, resiko bisa di minimalisir dengan memanfaatkan koneksi, baik itu orang dalam pegadaian sendiri, atau orang luar yang bertindak sebagai informan.

Informasi, bisa jadi arah sebaliknya, yaitu dari orang lain yang membutuhkan barang tertentu dengan harga murah. Kemudian si buruh gadai (istilah untuk orang2 yg bertransaksi di luar pegadaian) yang akan mencarikan barang yg diminta. Atau, pada kasus lainnya ada orang yg ingin menggadaikan barang, tapi dia malas/malu pergi ke pegadaian.. bisa memanfaatkan jasa si buruh gadai. Maklum, kadang image yang diberikan terhadap orang2 yang pergi ke pegadaian adalah orang yg lagi ’bokek; dan butuh (pinjaman) uang.

Ok, barang apa saja sih yang bisa digadaikan? Hampir semua barang berharga, terutama yg mudah di taksir harganya seperti barang elektronik dan perhiasan. Sebenarnya perhiasan emas ini yang paling menguntungkan. Profitnya bisa mencapai 100-200 rb dalam sekali transaksi.

Menjelang puasa dan lebaran, volume transaksi di pegadaian biasanya mengalami peningkatan. Soalnya orang bersiap2 untuk belanja kebutuhan buat lebaran: mulai dari beli baju, penganan lebaran atau buat mudik ke kampung. Nah, itu semua kan butuh biaya – dan pegadaian adalah solusi ‘instan’-nya. Momen lainnya adalah menjelang tahun ajaran baru; biasanya para orang tua butuh dana untuk bayar uang gedung, atau biaya2 lain buat sekolah anaknya.

Bisnis di pegadaian, sama dengan bisnis lainnya pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Kekurangannya terutama ada di faktor modal. Sulit untuk memastikan, apakah sebuah barang tertentu – misal TV – akan selalu ada setiap saat di pegadaian. Istilahnya barang tidak ’ready-stock’. Nah, saat ada barang, tapi ga ada duit – bisa jadi kesempatan untuk dapetin barang bagus dengan harga murah – jadi hilang.

Faktor penting lainnya adalah: tahan malu. Orang2 yang berkumpul di pegadaian, tentunya bukan berasal dari kalangan ’high-class’, bukan orang2 berdasi, rambut klimis, badan wangi. Suasananya kadang malah seperti pasar, dimana kalo pas rame2nya bisa saling berdesakan. Ini dia masalah utama; buat orang2 seperti saya yg udah keenakan duduk manis di kantor.. belum tentu mau tiba2 merubah ’suasana’ kerjanya seperti gambaran di atas.

Yah, yang penting kan cari uang yang halal? Gimana2, usaha ini ternyata bisa menghidupi kenalan saya tadi beserta 2 orang anaknya.

Jadi, bagaimana.. mau mencoba?

Categories: My Life Tags: , , ,
  1. dermawanta sitepu sp
    September 10, 2009 at 6:13 pm

    saya tinggal di kota kecamatan Salapian Kabupaten langkat saya punya rumah toko yang dahulunya saya buat usaha bakso tp dikarenakan sekarang ini situasi ekonomi yang lagi lemah jadi usaha saya tutup dikarenakan kurangnya peminat untuk membeli makanan.
    saya lihat pada saat ini banyak yang telah mendirikan usaha pegadaian dan setelah saya pelajari sayapun tertarik untuk mendirikan usaha tersebut
    jadi saya ingin tau gimana sarat pendirian usaha pegadaian tersebut

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: