Home > My Life > Beli Rumah lewat KPR

Beli Rumah lewat KPR

Hari ini, saya mendapat undangan untuk sebuah wawancara di bank. Eits, jangan salah sangka .. saya ngga lagi ngelamar kerja di bank lho..🙂

Wawancara itu, adalah bagian dari proses pengajuan kredit KPR (Kredit Perumahan Rakyat) di bank. Herannya, kenapa kok hanya bank BTN yang proses wawancara-nya musti datang ke tempat yah? Bank lain seperti bank Permata, cukup lewat telpon. Untungnya saat ini kerjaan di proyek lagi slowly.. alias alon2 asal kelakon. Walhasil, saya jadi punya cukup waktu untuk ngurusi hal2 yang penting seperti ini.. *psst, jangan bilang2 bos saya yah🙂

Tulisan ini saya buat sebagai catatan pribadi. Boleh juga kalo temen2 mau menjadikan semacam referensi, siapa tahu belum pernah ngurus KPR. Jadi daripada saya repot2 nerangkan sampai mulut berbusa .. mending baca blog saya🙂 Ok, cerita dikit yah ..

KPR yang saya ajukan itu, untuk keperluan membeli rumah di kawasan Serpong Green Park (SGP). Rumah idaman, dan mudah2an betah tinggal di sana.. amiinn.

SGP sendiri menunjuk 4 bank rekanan, yaitu: Bank Permata, Bank BTN, Bank Niaga dan Bank BNI. Proses KPR di bank2 tsb, bisa jadi berbeda. Kali ini yg saya tulis adalah proses di Bank BTN.

Pertama ketika datang, saya diminta untuk membuka rekening di BTN. Cukup dengan Rp 100 ribu saja. Karena saat ini saya belum ber-KTP Jakarta, pembukaan rekening ini di tunda dulu dan lanjut ke wawancara. Sebelum dimulai, seperti biasa saya diminta untuk mengisi formulir. Yah, yang diisi disitu adalah data2 pribadi: nama, alamat, keluarga tanggungan, pekerjaan, jumlah penghasilan dan pengeluaran, dll. Oh ya, sebelumnya saya diminta membawa berkas2 pendukung, yaitu:

  • KTP saya dan istri
  • Kartu keluarga
  • Akta nikah
  • NPWP
  • Surat keterangan kerja
  • Slip gaji (kopi)
  • Foto saya & istri
  • Buku tabungan (kopi)
  • Kelengkapan lainnya berupa bukti pembayaran uang muka, beserta booking-fee. Tujuannya sih biar pihak bank tahu bahwa antara saya & developer tidak mempunyai tanggungan pembayaran lain. Terus untuk NPWP, bank BTN juga minta SPT Pph 21 dari perusahaan, tujuannya untuk mengetahui NPWP Induk atau perusahaan yang membayarkan pajak saya.

    Nah, sampai di sini ada satu kendala: lama kerja di perusahaan. Menurut keterangan analys, minimal saya harus sudah bekerja di perusahaan sekarang selama 1 (satu) tahun. Berhubung, 1 tahun-nya baru bulan depan.. beliau menjanjikan untuk mulai ‘memasukkan’ berkas2 saya bulan depan juga. Namun proses analisa-nya sudah bisa dimulai sekarang.. dan insya Alloh diterima🙂 *Untuk masalah ini, di bank yang lain bisa ‘diatasi’ dengan menunjukkan surat keterangan kerja dari perusahaan sebelumnya, yang tentunya di atas 1 tahun juga*

    Kendala berikutnya adalah KTP. Mau tidak mau, harus ada bukti bahwa saat ini saya berdomisili di Jakarta entah itu KTP atau bisa jadi keterangan domisili. Kira2 berapa lama yah proses yang dibutuhkan untuk ngurus KTP / keterangan domisili? Mudah2an nggak (pake) lama yah..🙂

    Dalam wawancara, saya ditanya oleh pihak analis, tentang jumlah plafond kredit yang mau diambil. Hitungannya simpel aja, harga rumah total (untuk KPR) dikurangi uang muka yang sudah dibayar. Biasanya jumlahnya dibulatkan ke bawah, misal: 123.456.789 rupiah dibulatkan menjadi 123 juta rupiah. Terus, mau ngambil kredit berapa lama.. biasanya kalo ngga 5, 10 atau 15 thn. Hitung, hitung, hitung.. dengan lama kredit sekian, bunga KPR sekian.. ketemu deh jumlah cicilan per bulannya berapa.

    Setelah analisa dilakukan dan ternyata hasilnya ‘lulus’, maka bank akan memberikan pemberitahuan resmi kepada saya dan developer. Pemberitahuan tsb, menjadi semacam jaminan bahwa bank telah memberikan pinjaman kepada saya untuk membangun rumah. Buat si developer, tentunya akan ‘merasa aman’ karena dana yang dibutuhkan sudah tersedia .. dan dijamin oleh bank.

    Pembangunan rumah berlanjut dan begitu selesai, maka selanjutnya masuk ke proses akad kredit. Dalam hal ini, bank BTN akan melakukan appraisal terhadap nilai rumah saya .. kira2 cocok ngga dikasih harga sesuai yang saya pinjam. Proses ini ternyata bisa jadi berbeda untuk bank yang berbeda, contohnya bank Permata hanya menilai berdasarkan pricelist dari developer, jadi tidak menunggu rumah itu ‘berwujud’ (kecuali untuk rumah second). *Oh ya, sebelum masuk ke akad kredit, pembayaran uang muka (DP) rumah harus sudah dilunasi. Kalau DP dicicil, yah berarti nunggu sampai cicilan DP tsb lunas*.

    Pada saat akad kredit ini, saya musti menyiapkan dana untuk membayar:

    1) BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan)

    BPHTB = ( NJOP – 30 juta ) x 5%

    2) AJB (akta jual beli)

    AJB = .. ? + komisi untuk notaris

    3) Biaya2 lain untuk asuransi (jiwa dan kebakaran), provisioning, administrasi bank, notaris. Total biaya lain ini sekitar 7% dari total pinjaman (beda bank, beda nilainya).

    NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) ini sama dengan harga jual rumah saat saya beli. Ganti tahun tentunya nilai NJOP tersebut juga akan meningkat.

    BPHTB merupakan syarat untuk pengurusan SHGB (Sertifikat Hak Guna Bangunan) yaitu surat keterangan atau sertifikat yang menyatakan bahwa saya memiliki hak untuk menggunakan tanah di suatu area untuk mendirikan bangunan di atasnya. SHGB ini seperti surat sewa saja, yang artinya musti diperpanjang setelah +/- 20 tahun. Untuk pengurusan SHGB, syaratnya BPHTB tadi dan biaya (komisi) notaris. *Bisa jadi 20 tahun ke depan NJOP kita meningkat drastis, sehingga jatuhnya BPHTB dan SHGB jadi gede banget*

    Nah, biar hati jadi adem dan ayem🙂 .. kalau ada dana, SHGB tadi sebaiknya ditingkatkan menjadi SHM (Sertifikat Hak Milik). Baru, kalau kita sudah ‘memegang’ SHM ini (mustinya) sudah tidak ada pihak lain manapun yang bisa menggugat kepemilikan kita atas tanah yang kita tinggali. *Untuk pengurusan SHM ini tentunya ada biaya lain lagi yang musti kita siapkan*

    Byuuh.. ternyata beli rumah itu muahaalllnyaa minta ampyun. Belum lagi bayar asuransi, bayar pajak, bayar SHGB/SHM, bayar AJB. Ngga heran kalo ada yang bilang, rumah (properti) adalah investasi yang termahal. Lha wong, biaya2 yang dikeluarkan juga ngga sedikit.

    Ok, sekian tulisan mengenai proses pembelian, terutama melalui KPR. Buat teman2 yang punya info lebih, atau mau mengoreksi tulisan saya, monggo. Your comments are very welcome!

    Categories: My Life Tags: , , , , ,
    1. tyo
      August 18, 2008 at 10:24 pm

      thanks atas infonya

    2. September 10, 2008 at 2:37 pm

      wah…

      1st of all, joule juga rencana mo ambil rumah di serpong green park.

      hehehe

      met kenalan

      sapa tau bisa tetanggaan.

      hehehe

    3. September 11, 2008 at 8:47 am

      @Joule:
      Salam kenal, mas/pak Joule. Baru rencana ato sudah ngambil🙂 Mudah2an jadi tetangga beneran, ntar

    4. September 11, 2008 at 2:20 pm

      Wah Thanks pak…buat pencerahannya

    5. test
      November 12, 2008 at 11:12 am

      maaf cuma mau test

    6. robin hood
      December 7, 2008 at 9:37 am

      hare gene bayar NPWP ? goblok banget, apa kata dunia???

    7. rohwisnu
      June 23, 2009 at 1:20 am

      Kalau dah tau mendapatkannya dengan proses yang nj’limet bin Ruwet, kalo ada maslah jangan Take OVer Bawah Tangan Beresiko fatal. Trus Jangan Sampe Nunggak Kesadaran membayar tiap bulannya harus diperhatikan, kalo sampe nunggak mudah-mudahan bisa ketemu sekalian silahturrahmi…

      collector KPR

    8. fina
      December 26, 2009 at 2:58 pm

      rencana mau ambil di serpong green park juga, tp lokasinya agak masuk kedalam…gmn nih Bpk2 yg sdh mulai tinggal di serpong green park? suasana & akses keluarnya? trims

    9. December 28, 2009 at 11:58 am

      @Fina:
      Saya sudah menempati rumah di SGP selama 3 bln lebih. Sejauh ini yang saya sayangkan adalah design rumah yang tidak memiliki ventilasi terbuka, membuat rumah jadi lembab sehingga sekarang ini cat tembok sudah berjamur. Masalahnya kalo tiap ruang musti pake AC, dengan daya 1300 watt ga bakalan kuat. Secara pemakaian juga jadi ngga hemat energi. Akses keluar ga masalah, naek motor bisa lewat Psr Ciputat, atau Kampung Utan. Naek mobil masuk tol BSD. Sayangnya kualitas jalan, apalagi di musim hujan ini jadi berlubang. Apalagi kendaraan berat seperti truk juga lewat jalan yang sama. Tapi suasana tinggal cukup nyaman, tapi karena masih banyak rumah yang sedang proses pembangunan, apalagi rumah di samping saya persis, akibatnya jadi agak terganggu. Masalah keamanan cukup terjaga, tinggal gimana kita bisa berkomunikasi dengan tetangga dan pihak keamanan yang sampai skrg masih dipegang oleh developer.

      Semoga info-nya berguna.

    10. February 6, 2010 at 9:24 pm

      saya ingin tanya, apakah wawancara di bank menunggu rumah jadi 100% ato pada saat dibangun?

    11. February 9, 2010 at 9:33 am

      @Sunarto: untuk wawancara, tergantung kondisi rumah yang akan dibeli. Idealnya stlh wwncr, pihak bank akan melakukan appraisal untuk menilai pantes tidak rumah itu dihargai sebesar yang kita pinjam. Bisa jadi kita minta-nya 200, tapi di approve sama bank 150. Tapi, skrg kan banyak developer yg system inden (terutama developer kecil), sehingga rumah baru dibangun setelah bank approve, akad kredit selesai. Kalo begini, yang dijadikan acuan bank adalah daftar-harga dari developer.

    12. eridha
      November 2, 2010 at 1:00 pm

      tks bgt infonya p’, rencana mau ambil di SGP juga neeh.. blok o paling ujung.. salam kenal ya pa’.. btw, ada milis warga SGP gak? lg ngumpulin info.. biar lebih mantep ngambil di sana

    13. November 8, 2010 at 7:08 pm

      @eridha: salam kenal juga.. bapak/ibu nih🙂 untuk milis SGP sudah ada, tapi mohon maaf hanya untuk para penghuni SGP, karena milis ini juga dipake untuk sharing informasi internal warga. Semoga jadi ngambil, dan tinggal di SGP.

    14. sasukesuyono
      August 16, 2012 at 1:55 pm

      thx infonya saya lagi nunggu wawancara dengan BTN

    15. December 7, 2013 at 6:42 am

      Salam kenal pak
      Posting pribadinya sungguh bermanfaat, setidaknya sedikit ada pencerahan buat saya meskipun saya tidak mengambil KPR di. SGP , ttpi ada kesamaan , saya kemarin abis interview ke Bank BTN dan masih menuggu lagi untuk di acc ato tidaknya oleh pihak bank, sedangkan KPR yang saya ambil ini adlah non subsidi, jdi dri pihak bank bisa menawarkan rumah itu ident atau menunggu rumah jadi baru akad kredit.

    16. April 20, 2014 at 3:14 pm

      Ya, KPR BTN selalu menjadi primadona bagi masyarakat menengah kebawah, tetapi bagaimana nasibnya setelah diakuisisi bank Mandiri dalam waktu dekat ini

    1. No trackbacks yet.

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    %d bloggers like this: