Home > Motivation > Pendidikan dengan Kekerasan di STIP

Pendidikan dengan Kekerasan di STIP

Sedih, bercampur miris. Lagi2 sebuah tayangan kekerasan di media elektronik (Kamis, 19-juni pukul 6-7), terjadi di sebuah institusi pendidikan: STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran).

Kalau kita berkaca dengan kasus kekerasan yang terjadi di STPDN / IPDN tempo lalu, seperti mengalami deja vu. Bagaimana, para perwira yunior dibariskan dalam sebuah ruangan dengan bertelanjang dada, kemudian satu persatu mendapat pukulan keras dari para senior, entah itu di daerah kepala, punggung maupun perut (ulu hati).

Sejak dulu, saya termasuk orang yang tidak percaya bahwa pendidikan bisa dilakukan dengan kekerasan. Pendidikan yang seperti apa yang ingin disampaikan dengan metode seperti itu: pendidikan ala preman-kah? Kalo yang dituju pendidikan mental, seperti yang digembar-gemborkan senior2 saya waktu ploncoan jaman kuliah, saya rasa sungguh tidak tepat sasaran. Bukankah mental yang tepat adalah, mereka yang berani berdiri saat kebenaran diputar-balikkan, saat kejahatan menutupi kebenaran dengan bayang2nya.

Lha, ini malah sebaliknya: para junior diminta “berani” menerima perlakuan semena2 dari senior. Dengan kata lain, menurut saya, sama halnya dengan mendidik junior untuk selalu mematuhi senior meskipun yang mereka lakukan adalah hal yang tidak benar. Seakan mereka diminta untuk bungkam dan patuh atas sebuah kejahatan yang tengah bergulir di depan mereka; atas dasar perintah dari “atasan”.

Dan, saat bungkamnya manusia atas ketidak-adilan dan kejahatan, saat itulah kesengsaraan, penderitaan akan ditimpakan kepadanya, tidak peduli apakah dia turut berbuat atau tidak. Kiranya menurut saya, seperti apa yang kita alami di bumi Indonesia ini.

Bisakah anda membayangkan, bagaimana jika para pelaku ketidakadilan tersebut menjadi pemimpin di negara ini? Saya sendiri tidak berani membayangkannya. Bagaimanapun kekerasan bukanlah sebuah solusi, apalagi untuk sebuah misi pendidikan.

Categories: Motivation Tags: , ,
  1. kusmiadi nugroho
    July 6, 2008 at 1:03 pm

    Saya CATAR STIP, apakah nanti masih ada “KEKERASAN” di STIP???????????????????

  2. July 6, 2008 at 1:46 pm

    @Kusmiadi:
    Terlepas dari benar2 ada atau tidak kegiatan semacam itu di STIP, saya tetap tidak setuju bahwa kekerasan dijadikan cara untuk ‘mendidik’. Apalagi kalau — seandainya — kegiatan tersebut cuman menjadi ajang plonco-an yang ngga jelas apa tujuannya. Mudah2an kejadian ini tidak (pernah) terjadi di STIP, untuk masa2 ke depan. Maju terus STIP!!

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: