Home > My Life > Alone in the dark

Alone in the dark

“I wake up in the night and I look-out through the window, there aint nobody out there. I look around though there aint nobody else. Looks like I’m all alone in the bus that I ride.. alone in the dark”

Aku terbangun dari tidurku. Seluruh badanku terasa kaku dan pegal. Aku bertanya2 dalam hati, di mana sekarang diriku berada.

“Hmph.. ternyata masih di tengah2 perjalanan”. Aku rasakan getaran mesin bus yang menyala, dan dinginnya AC menusuk kepalaku. Badan ini rasanya berat, seolah sudah menempel jadi satu dengan kursi yang aku duduki.

“Bobo lagi aja deh, toh busnya blom nyampe..” Kugeser badanku, mencoba mencari posisi yang lebih enak untuk melanjutkan tidurku. Tapi tunggu dulu, kok ada yang aneh. Kusapu pandangan ke seluruh ruangan bus. Kantuk yang menggantung tadi tiba2 hilang. Kesadaran dan rasa takut tiba2 menyergapku.

Aku sendirian dalam bus.

First thing in my mind, “Am I dreaming?” But it felt more real than a dream. “So where’s everybody else now?” Ku raba saku jaketku, celanaku dan tasku. Semua masih ada di tempatnya.. uang, KTP, ATM dan yang penting handphone.

Di luar bus gelap sekali. “Apakah aku sudah sampai di airport? Atau jangan2 ini terminal bus lain, yang mungkin letaknya .. ngga tahu, mungkin jauh banget dari airport?” Kepalaku terasa pusing sekali, denyutnya begitu kencang seiring kencangnya detak jantungku.

Aku melompat dari tempat duduk, mencari pintu keluar. “Damn it’s locked!!” Aku teringat bahwa pintu bus damri ini bisa dibuka tutup secara otomatis. Pasti ada semacam tombol pembuka pintunya di depan kursi supir.

“Aduh, kok gelap banget sih!” antara bingung mencari tombol pembuka pintu dan sakit kepala yang menjadi2. Tiba2..”TOK.. TOK.. TOK” seseorang menggedor pintu supir dan kemudian membukanya.

“Ngapain mas, kok naik bus ini. Belum mau muter nih, saya”

“Maaf, pak. Saya tadi ketiduran dalam bis.. ini sekarang di mana yah?”

“Wah, uda sampai airport mas. Loh, tadi kok saya ndak keliatan mas nya yah. Brarti mas belum mbayar yah?”

“Udah di airport? Terus terminal keberangkatannya di mana pak?”

“Noh.. disana”, kata orang itu yang ternyata supir bus ini.

Aku memicingkan mata berusaha melihat ke arah yang ditunjuk pak supir. Ternyata aku sudah sampai di airport dan sekarang lagi ada di parkiran bus. Cuman jarak dari parkiran, ke terminal lumayan jauh. Pantesan dari tadi ngga kelihatan.

Kukeluarkan lembaran 20 ribuan untuk membayar ongkos. Si pak supir menyerahkan kembalian 5 ribu. “Untung sampeyan udah bangun mas.. ini saya barusan selesai makan, mau muter lagi” katanya sambil terkekeh2.

Weleh, ngga kebayang.. seandainya aku telat bangun 1-2 menit aja.. mungkin udah habis waktu semalam untuk keliling kota Jakarta. It was already late at night.. 19.30 and I haven’t got my ticket back to Surabaya.

“Iya pak.. udah dulu, makasih ya” Kutinggalkan pak supir yang masih terheran2 dengan kejadian itu.

Sambil menahan malu, aku berlari menuju terminal. Dalam hatiku berkata, “ngga lagi deh tidur di dalam bus”

Categories: My Life
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: